MAHAKURAWA
(Mahabharata dari Sudut Pandang Kurawa)
Rp 192.000 (Rp 240.000)
Mahabharata, epos terbesar sepanjang masa, sering kali dipahami
sebagai cerita tentang kebaikan (Pandawa) melawan kejahatan (Kurawa). Tetapi
sejarah ditulis oleh para pemenang. Mereka bisa menulis apa pun yang mereka
inginkan. Yang kalah akan selalu diingat sesuai dengan penggambaran yang dibuat
para pemenang. Bagaimana jika Kurawa menyimpan kisah yang luput dari kita?
Di
India, terdapat 1.260 versi Mahabharata. Di jagat pewayangan, ceritanya pun
sangat beragam. Ada bagian Mahabharata karya Abiyasa yang lama hilang, yang
ditulis dari sudut pandang Kurawa. Jaimini, murid Abiyasa, menulis kepahlawanan
Duryudana. Hanya satu bagian dari versi tersebut, Aswatama Parwa, yang tersisa.
Pada abad 2, pujangga Bhasa menulis Urubangga, yang memuja Duryudana. Pun ada beberapa
cerita rakyat di India selatan yang menempatkan Duryudana sebagai pemimpin
mulia, yang berani melawan tatanan kasta yang semena-mena. .
Inilah Mahakurawa,
kisah Mahabharata dari sudut pandang tokoh-tokoh yang dianggap jahat seperti
Duryudana, Aswatama, dan Sengkuni, pun yang tertindas dan
terlunta seperti Ekalaya, Karna, dan Jara. Mahakurawa mempertanyakan apa yang
baik dan apa yang jahat dan siapa sejatinya pemenang Bharatayuda. Mahakurawa
adalah kisah dari sisi lain: yang kalah, yang terhina, yang terinjak-injak,
yang bertempur tanpa berharap campur tangan dewata, yang meyakini bahwa
tindakan mereka sesuai dharma! Dan jika Mahabharata pada akhirnya adalah kisah
tentang kemenangan dharma atas adharma, kenapa dunia justru memasuki Kaliyuga? Selamat membaca.
Buku diterbitkan Penerbit Javanica.
Harga dua buku: Rp 192.000 (harga asli: Rp 240.000). Terdiri dari dua seri:
Cakra Manggilingan (seri 1, 502 hlm. Rp 120.000) dan Kaliyuga (seri 2, 561 hlm.
Rp 120.000). Penulis: Anand Neelakantan. Tebal total: 1.063 hlm.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar